1. Keistiqomahan untuk halaqoh (liqo’)
Halaqoh atau liqo’ yang sudah tertanam
sebagai sarana tarbiyah ikhwah saat dikampus akan mengalami godaan. Untuk bisa
tetap melanjutkan halaqoh pada pasca kampus, terkadang terkendala karena
masalah adaptasi lingkungan baru, beban pikiran yang bertambah dan kesulitan
untuk menemukan pengelola halaqoh pada wilayah tertentu. Kegalauan yang datang sering
membuat semangat untuk dating ke halaqoh menurun, padahal kondisi seperti ini
sangat bahaya karena bisa membuat ruhiyah ikhwah melemah dan yang paling buruk
tidak melanjutkan halaqoh.
2. Pemilihan pekerjaan
Saat tuntutan kehidupan mandiri sudah datang,
naluri alamiah ikhwah yang mendesak untuk segera mencari nafkah memberikan
tekanan dalam memilih pekerjaan. Memilih pekerjaan yang lebih dekat dengan syar’I
merupakan idealisme yang tertanam sejak di masa kampus. Permalahan yang membuat
bimbang ialah ketika materi atau gaji menjadi godaan, menjadi pilihan yang
sulit untuk melangkah. Pada kasus ini terkadang ikhwan memilih menjadi wirausahawan,
namun memilih ini ikhwah juga harus memiliki kesiapan mental pula. Pandangan keluarga
dan masyarakat ketika seorang yang baru lulus kuliah memulai wirausaha sekarang
ini masih belum berpandangan positif. Mungkin ikhwah akan mampu menahan diri
dari keluhan masyarakat, tapi perlu dipertimbangkan juga penilaian keluarga,
orang tua belum tentu siap menanggapi pendapat masyarakat tentang keputusan
ini. Pemilihan pekerjaan harus dipertimbangkan dengan beberapa pertimbangan
tadi, baik ke syar’i-annya (kedekatan dengan nilai islam), pertimbangan keluarga
dan penghasilan yang diperoleh.
3. Pemilihan pendamping hidup
Pada kasus ini mungkin beberapa ikhwah sudah
mantab untuk memilih jodoh yang sesama ikhwah. Tapi ada juga ikhwah yang masih
bimbang untuk memilih jodoh sesama ikhwah, amah ataupun yang berbeda harokah. Pada kendala ini
penjernihan pikiran dan hati dari hawa nafsu harus diutamakan, selain itu
komunikasi dengan orang tua harus dengan baik. Terutama bagi ikhwah yang
orangtuanya masih amah, menunjukan azam dan pertimbangan-pertimbangan terkait
masa depan sendiri harus dilakukan agar kebahagiaan tidak hanya milik ikhwah
yang menikah saja, tapi juga seluruh keluarga.
Saat ikhwah sudah kembali kemasyarakat menunjukkan identitas
diri sebagai kader dakwah harus ditunjukkan. Jangan sampai menjadi orang yang
tidak punya pendirian, layaknya bunglon yang merubah warna kulitnya sesuai
dengan tempat dia berada. Tidak boleh ikhwah menjadi sesuatu yang meniru
lingkungan, ketika lingkungan bersama dengan orang-orang shalih dia menjadi
shalih, tapi saat dia berada pada lingkungan yang kufur dia ikut-ikutan kufur. Dengan
menunjukkan identitas diri sebagai sorang kader dakwah, maka kita akan mampu
memberikan kebaikan dan bisa menjadi orang yang menjadi rujukan masyarakat saat
membutuhkan bantuan.
Maka dari itu peningkatab kapasitas diri tentang ruhiyah,
fikriyah harus diperkuat. Tujuan pasca kampus harus mulai diteguhkan, dan
kemandirian financial harus mulai dibangun untuk mempersiapkan diri. Wallahu a’lam
bish showab
By: Halaqoh Tujuh

Tidak ada komentar:
Posting Komentar