Jumat, 18 Mei 2012

Karakteristik Kedua Belas (Orang-Orang Lemah Boleh Menampakkan “Kemurtadan” )


Riwayat Ammar bin Yasir ketika disiksa oleh orang musyrik dengan dijemur di terik matahari atau dengan meletakkan batu besar yang membawa di atas dadanya. Ammar bin Yasir adalah budak milik Bani Makhzum. Ia dan kedua orang tuanya diketahui telah masuk islam. Kemudian orang-orang musyrik di bawah pimpinan Abu Jahal menyiksa mereka dengan menjemur mereka di terik matahari Mekkah.  Mereka berkata, “ Kami tidak akan meninggalkan kamu sampai kamu mencela Muhammad atau memuji Latta dan Uzza.” Akibat dahsyatnya penyiksaan akhirnya Ammar menyetujui mereka dalam keadaan terpaksa, kemudian ia datang menemui Rasulullah SAW. meminta maaf seraya menangis.. Maka Turunlah firman Allah,

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)…..(An-Nahl [16] : 106)

Rasulullah bersabda kepada Ammar bin Yasir, setelah mendengar kisah yang dialaminya, “ Bagaimana kamu dapati hatimu? Ammar menjawab, “Dalam keadaan tenang dalam keimanan. “Sahut Nabi SAW., “Jika mereka kembali (menyiksamu) maka ulangilah lagi (sikapmu).”

Dengan demikian, perbedaan tingkatan (mustawa) dalam gerkan Islam itu sangat memungkinkan. Tingkatan antara Sabar menanggung siksaan sampai mati, yang mencerminkan ‘azimah ‘hukum asal’ dan terpaksa menampakkan kekafiran, yang mencerminkan rukhshah ‘keringanan’. Sekalipun kedua sikap tersebut dibolehkan, tetapi sabar menanggung cobaan dan penyiksaan meskipun mengakibatkan syahid di jalan Allah adalah lebih utama dan mulia di sisi Allah.

Bahkan, kadang-kadang mengambil sikap yang mencerminkan ‘azimah menjadi ketentuan apabila orang yang bersangkutan adalah seorang da;I yang memiliki kedudukan penting di masyarakatnya atau menjadi qudwah yang melalui dirinya orang mengetahui islam. Karena bila tokoh seperti dia mengambil rukhshah (miris), boleh jadi akan melemahkan keyakinan masyarakat terhadap aqidah islam dan menimbulkan kegoncangan di kalangan orang-orang lemah. Tiada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya pada keyakinan dalam diri manusia, selain daripada keteuhan para tokoh (rijal) dalam mempertahankan aqidah, Tetapi, kita tidak mengecam atau mencela orang yang miris akibat dahsyatnya penyiksaan, bahkan kita dapat memaklumi sikapnya tersebut.

Wallahu A’lam bish Showab.

By: Muhammad Faliqul Asbah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar