Riwayat Ammar bin Yasir
ketika disiksa oleh orang musyrik dengan dijemur di terik matahari atau dengan
meletakkan batu besar yang membawa di atas dadanya. Ammar bin Yasir adalah
budak milik Bani Makhzum. Ia dan kedua orang tuanya diketahui telah masuk islam.
Kemudian orang-orang musyrik di bawah pimpinan Abu Jahal menyiksa mereka dengan
menjemur mereka di terik matahari Mekkah.
Mereka berkata, “ Kami tidak akan
meninggalkan kamu sampai kamu mencela Muhammad atau memuji Latta dan Uzza.”
Akibat dahsyatnya penyiksaan akhirnya Ammar menyetujui mereka dalam keadaan
terpaksa, kemudian ia datang menemui Rasulullah SAW. meminta maaf seraya
menangis.. Maka Turunlah firman Allah,
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat
kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang
dalam beriman (dia tidak berdosa)…..(An-Nahl [16] : 106)
Rasulullah bersabda
kepada Ammar bin Yasir, setelah mendengar kisah yang dialaminya, “ Bagaimana kamu dapati hatimu? Ammar
menjawab, “Dalam keadaan tenang dalam
keimanan. “Sahut Nabi SAW., “Jika
mereka kembali (menyiksamu) maka ulangilah lagi (sikapmu).”
Dengan demikian,
perbedaan tingkatan (mustawa) dalam
gerkan Islam itu sangat memungkinkan. Tingkatan antara Sabar menanggung siksaan
sampai mati, yang mencerminkan ‘azimah
‘hukum asal’ dan terpaksa menampakkan kekafiran, yang mencerminkan rukhshah ‘keringanan’. Sekalipun kedua
sikap tersebut dibolehkan, tetapi sabar menanggung cobaan dan penyiksaan
meskipun mengakibatkan syahid di jalan Allah adalah lebih utama dan mulia di
sisi Allah.
Bahkan, kadang-kadang
mengambil sikap yang mencerminkan ‘azimah
menjadi ketentuan apabila orang yang bersangkutan adalah seorang da;I yang
memiliki kedudukan penting di masyarakatnya atau menjadi qudwah yang melalui dirinya orang mengetahui islam. Karena bila
tokoh seperti dia mengambil rukhshah (miris),
boleh jadi akan melemahkan keyakinan masyarakat terhadap aqidah islam dan
menimbulkan kegoncangan di kalangan orang-orang lemah. Tiada sesuatu yang lebih
besar pengaruhnya pada keyakinan dalam diri manusia, selain daripada keteuhan
para tokoh (rijal) dalam mempertahankan aqidah, Tetapi, kita tidak mengecam
atau mencela orang yang miris akibat dahsyatnya penyiksaan, bahkan kita dapat
memaklumi sikapnya tersebut.
Wallahu A’lam bish Showab.
By: Muhammad Faliqul Asbah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar