Senin, 30 April 2012

Karakteristik Kesepuluh (Membela Diri dalam Keadaan Darurat)


Islam tidak mengenal istilah balas dendam, tetapi di dalam islam terdapat perintah  “Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri” (Asy-Syura [42]: 39). Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa ada sebagian dari kader dakwah gerakan islam tidak sama tingkatannya dalam menghadapi gangguan. Diantara mereka ada yang  disegani karena kekuatannya, atau keluarganya, atau kedudukannya. Kader dakwah yang semacam ini mampu memberikan balasan terhadap permusuhan dan perlakuankasar dari para musuh Allah. Sebagaimana yang  telah terjadi saat hijrahnya Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, dimana disebutkan bahwa setelah Umar masuk islam berjuang melawan serangan mereka sampai matahari tegak di atas kepala mereka. Demikian pula kisah Ustman bin Mazh’un tatkala ia kembali dari Habasyah dan mendapatkan perlindungan al-Walid bin al-Mughirah. Kemudian perlindungan ini dibatalkannya karena  menginginkan perlindungan Allah semata dan menolak dengan tegas apa yang diucapkan oleh penyair jahiliah itu, sehingga dirinya dikeroyok oleh banyak orang. Kendatipun dia melakukan perlawanan terhadap mereka, tetapi pengroyokan itu mengakibatkan kedua matanya memar terkena pukulan.

Tindakan membela diri atau menolak kedzaliman punya pengaruh yang positif dalam meningkatkan moralitas masyarakat, terutama orang yang menghargai dan mengagumi kepahlawanan. Bahkan hal itu dapat menjadi pendorong bagi orang yang ingin bergabung dalam barisan dakwah. Oleh karena itu , jelaslah bagi para kader dakwah untuk mengerahkan segala daya dan upaya dalam memperjuangkan agama islam ini. Akan banyak darah dan keringat yang bercucuran serta air mata yang membasahi pipi di dalam memperjuangkannya. Sejarah telah memberikan kita pelajaran yang sangat berharga, bahwa kader dakwah yang ikhlas berjuang demi tegaknya syari’at islam akan mampu mengangkat izzah dirinya juga izzah umat islam pada umumnya. Karena Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya dan ia bersabar, karena sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. Allahu A’alam


By: Heri Setyo Wibowo

Minggu, 22 April 2012

Karakteristik Sembilan (Menekankan aspek spiritual)


Pada tahap pembinaan tidak ada sesuatu pengaruhnya yang lebih besar dalam jiwa selain dari pada ibadah ,karena dengan ibadah akan menghubungkan hati dengan Alllah, meneguhkan jiwa dalam menghadapi penderitaan, lulus menghadapi fitnah dan teguh diatas kebenaran.
Imam Ahmad meriwayatkan perkataan Aisyah ra, “ sesungguhnya Allah mewajibkan qiyamul lail pada awal surah ini. Kemudian Rasulullah saw dan para sahabatnya melaksanakannya selama satu tahun sampai kaki – kaki mereka bengkak. Allah menahan penutup surah itu dilangit selama 12 bulan kemudian Allah menurunkan keringanan diakhir surah sehingga qiyamul lail menjadin sunnah setelah diwajibkan”.
Qiyamul lail yang diwajibkan pada permulaan ini merupakan daurah tadribiah ‘anifah’pelatihan intensif dan keras’ untuk komitmen dan taatt kepada Allah selama satu tahun penuh dan seharusnya waktu malam hari hendaklah lebih banyak digunakan untuk qiyamul lail dan sedikit untuk istirahat
Qiyamul lail sendiri bukanlah sasaran atau hukuman Allah terhadap hambahNya, tetapi merupakan tarbiya imaniyah ‘pembinaan keimanan’ untuk mewujudkan hubungan yang kuat dengan Allah. Ia adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sarana untuk dzikirullah , tabatul dan tawakal kepadaNya. Hal ini menjadi senjata satu – satunya dalam pertarungan . Ialah yang membekali kaum  mu’minin dengan kesabaran   dalam menghadapi cobaan , penyikasaan dan penghinaan .ialah sanjata sautu – satunya dalam  periode ini yang tidak membolehkan konfrontasi langsung.
Para penyeruh ke jalan Allah sangat memerlukan senjata ini , dalam melaksanakan tugas da’wah yang selalu menghadapi berbagai rintangan dan gangguan . Jika pada tahapan ini seperti ini gerakan Islam tidak memperhatikan aspek ibadah , aspek ruhiyah, qiyamul lail yang rutin dan berkesinambungan, dan daurah – daurah secra berulang – ulang untuk “ hidup terus” , pasti akan menyaksikan para  prajuritnya berjatuhan satu demi satu dan rontok oleh benturan tribulasi.

By: Irfan Roismanto

Pengurus Hlaqoh Tujuh

Direktur Utama : Muhammad Perdana

Genderal Manajer : Muslimin

Sekertaris : Fahmi Syafaat

Manajer Fikriyah : Irfan Roismanto & Kelik Isbiyantoro

Manajer Ruhiyah : Heri Setyo Wibowo

Manajer Jasadiyah : Muhammad Faliqul Asbah